All For JESUS-Pacifier
Marquee Tag - http://www.marqueetextlive.com

Rabu, 17 Desember 2008

Benarkah 25 Desember Bukan Ulang Tahun Tuhan Yesus?



Kenapa anda tidak merayakan Natal? Ada tiga alasan utama yang diajukan oleh orang Kristen yang tidak merayakan Natal. Pertama, Yesus Kristus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Kedua, 25 Desember adalah hari ulang tahun dewa-dewi. Ketiga, tidak ada perintah untuk merayakan Natal yang tercatat di dalam Alkitab.



Kelahiran Yesus Kristus

Alkitab Perjanjian Baru mencatat beberapa hari istimewa yaitu:

1. Hari Gabriel memberi tahu Maria bahwa dia mengandung
2. Hari kelahiran Yesus
3. Hari Yesus disunat pada hari ke 8
4. Hari kedatangan orang majus
5. Hari penebusan Yesus sebagai anak sulung (hari ke 30, 5 syikal perak)
6. Hari pentahiran Yesus (hari ke 40, domba/2 tekukur/2 anak merpati)
7. Hari Yesus di bait Allah pada umur 12 tahun
8. Hari Yesus dibaptis oleh Yohanes pembaptis
9. Hari Yesus membuat mujizat pertama kali
10. Hari Yesus disambut di Yesusalem
11. Hari perjamuan terakhir
12. Hari Yesus disalib
13. Hari kebangkitan Yesus (hari ke 3)
14. Hari kenaikan ke Surga (hari ke 40)
15. Hari turunnya Roh Kudus (hari ke 50)

Feast of Annunciation (perayaan pemberitahuan) dirayakan oleh gereja Ortodok dan Katolik setiap tanggal 25 Maret untuk memperingati hari Gabriel memberi tahu Maria bahwa dia akan mengandung. Gereja di Inggris menyebutnya hari wanita (Lady day) sekaligus menjadikannya sebagai hari tahun baru hingga tahun 1752.

Feast of Epiphany (perayaan manifestasi) dirayakan setiap tanggal 6 Januari untuk memperingati kelahiran, kedatangan orang majus, pembaptisan dan mujizat pertama. Mengenai perayaan ini liturgi kuno mencatatnya sebagai Illuminatio, Manifestatio, Declaratio (iluminasi, penjelasan, manifestasi, pembuktian dan deklarasi, pengumuman). Dalam perkembangan perayaan Epiphany juga disebut Twelfth Day, dua belas hari setelah Natal (25 Desember) atau Three Kings Day, hari tiga raja.

Baik Clement of Alexandria (150-211/216) dalam buku Stromata, buku ketiga dari trilogi Stromateis maupun Origen (185-254) dalam bukunya Contra Celsus (248) membahas tentang perayaan Epiphany ini.

Pada 25 Desember 380 Gregory of Nazianzus (329-389) Uskup Konstantinopel memisahkan perayaan Epiphany menjadi tiga yaitu 25 Desember untuk memperingati kelahiran dan kedatangan orang majus dan 6 Januari untuk memperingati pembaptisan serta 7 Januari untuk memperingati mujizat pertama pada perkawinan di Kana.

Sejak tahun 524 semua gereja barat merayakan kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember dan merayakan kedatangan orang Majus pada tanggal 6 Januari. Sementara itu gereja timur (Ortodoks) merayakan kelahiran dan kedatangan orang Majus pada tanggal 25 Desember dan merayakan hari pembaptisan Yesus pada tanggal 6 Januri.

Tanggal 25 Desember

Gereja Katolik dan Protestan merayakan Natal pada tanggal 25 Desember. Gereja Ortodoks Armenian (Armenian Apostolic Church, Armenian Orthodox Church, Gregorian Church) merayakan Natal pada tanggal 6 Januari sedangkan Gereja Ortodoks Timur (Eastern Orthodox Church) merayakan Natal pada tanggal 7 Januari.

Kenapa gereja Ortodoks Armenian merayakan Natal pada tanggal 6 Januari? Karena sesungguhnya yang mereka rayakan adalah hari Epiphany. Kenapa Gereja Ortodoks Timur merayakan Natal pada tanggal 7 Januari? Karena tanggal 7 Januari pada kalender gregorian yang digunakan saat ini adalah tanggal 25 Desember pada kalender Julian yang digunakan oleh Gereja Ortodoks Timur. Mereka juga merayakan Epiphany pada tanggal 19 Januari (6 Januari kalender Julian).

Kenapa tanggal 25 Desember digunakan untuk merayakan hari Natal? Ada dua teori mengenai hal itu:

Pertama, 25 Desember ditetapkan sebagai hari Natal berdasarkan teori Sextus Julius Africanus.

Sextus Julius Africanus melalui kelima bukunya yang berjudul Chronografiai (225) mengajarkan teori perhitungan waktu Alkitab. Menurutnya jangka waktu penciptaan hingga kelahiran Yesus adalah 5500 tahun. Dia menetapkan tanggal 25 Maret sebagai hari inkarnasi Allah Putera menjadi manusia, pada hari itulah Maria menerima khabar kehamilannya dari malaikat. Sembilan bulan kemudian, 25 Desember adalah hari kelahiran Yesus Kristus.

Kedua, 25 Desember ditetapkan sebagai hari Natal untuk menggantikan perayaan musim dingin bangsa penyembah berhala yang biasa dirayakan sebelum mereka memeluk agama Kristen.

Saturnalia adalah perayaan musim dingin yang dirayakan oleh bangsa Romawi. Perayaan itu dilakukan mulai tanggal 17 Desember hingga 23 Desember. Dalam perayaan itu mereka menyembah Dewa Saturnus sebagai dewa pertanian.

Dies Natalis Solis Invicti adalah perayaan hari ulang tahun dewa Sol Invictus, lengkapnya Deus Sol Invictus (dewa matahari yang tak terkalahkan). Perayaan itu dilakukan pada tanggal 25 Desember. Tanggal 25 Desember dalam kalender Julian adalah hari terpendek atau malam terpanjang dalam setahun. Pada hari itulah dewa matahari menunjukkan bahwa dirinya tidak terkalahkan oleh kegelapan.

Yule adalah perayaan musim dingin dan hari terpendek atau malam terpanjang yang dirayakan oleh bangsa Skandinavia. Bangsa Norwegia dan Denmark dn Swedia merayakannya pada tanggal 24 Desember.


Natal dan Alkitab

Origen seorang Theolog yang hidup pada tahun 185-254 menulis:

Mengenai semua orang suci yang tercatat di dalam Alkitab, tidak ada seorangpun yang tercatat pernah merayakan hari ulang tahunnya. Hanya orang-orang berdosa (Firaun dan Herodes) yang mengadakan pesta untuk memperingati hari di mana mereka di lahirkan di dunia. (Origen, in Levit., Hom. VIII, in Migne P.G., XII, 495)

Walaupun kita tidak tahu sejak kapan umat Kristen merayakan Natal, namun sejarah gereja mencatat bahwa Natal (Epiphany) sudah dirayakan oleh umat Kristen abad kedua.
Apabila perayaan Natal itu bertentangan dengan ajaran Alkitab, maka para bapa gereja tentu sudah menentangnya. Origen (185-254) dalam tulisannya tersebut di atas menentang perayaan hari ulang tahun, bukan menentang perayaan Epiphany.

Perayaan Natal bukan perayaan hari ulang Tahun Yesus Kristus namun memperingati hari Allah menyatakan kasihNya kepada manusia, itu sebabnya dalam doa Natal kita tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun kepada Tuhan Yesus, namun bersyukur kepada Allah karena mengirim AnakNya untuk menyelamatkan manusia.

Semua perayaan keagamaan yang dirayakan oleh umat Kristen saat ini, Jumat Agung, Minggu Paskah, Kenaikan Isa Almasih, Pentakosta dan Natal adalah adalah hari-hari syukur agung. Hari untuk bersyukur kepada Allah bahwa hal-hal tersebut sudah terjadi. Melalui peristiwa-peristiwa itulah karya penebusan digenapi. Itu sebabnya umat Kristen sejak abad pertama hingga generasi ini tidak pernah mempermasalahkan apakah hari-hari perayaan tersebut adalah hari di mana peristiwa yang dirayakannya terjadi.

Umat Kristen merayakan Jumat Agung bukan untuk memperingati hari kematian Tuhan Yesus, namun untuk bersyukur bahwa Allah Putera sudah memberikan nyawaNya ganti nyawa manusia. Itu sebabnya kita tidak pernah mempertanyakan apakah hari kita merayakannya cocok tanggal dan bulannya dengan tanggal dan bulan ketika peristiwa itu terjadi?

Umat Kristen merayakan Minggu Paskah bukan untuk memperingati hari kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian, namun untuk bersyukur bahwa karya penebusan Tuhan Yesus sudah diterima Allah Bapa.

Umat Kristen merayakan Kenaikan Isa Almasih bukan untuk memperingati hari kenaikan Yesus ke surga, namun untuk bersyukur bahwa Yesus sudah kembali bertahta di surga.

Umat Kristen merayakan Pentakosta bukan untuk memperingati hari turunnya Roh Kudus, namun untuk bersyukur bahwa Roh Kudus sudah turun ke dunia dan akan tinggal di hati setiap orang yang dipilihNya.

Umat Kristen merayakan Natal bukan untuk memperingati hari ulang tahun Tuhan Yesus, namun untuk bersyukur bahwa Allah Bapa sudah menyatakan kasihNya kepada manusia dengan mengutus AnakNya dan Allah Putera sudah lahir ke dunia menaati perintah BapaNya. Itu sebabnya umat Kristen dari generasi ke generasi tidak pernah mempermasalahkan apakah Yesus Kristus lahir tanggal 25 Desember atau tidak?

Kebaktian Natal dan Perayaan Natal

Umumnya gereja memisahkan kebaktian Natal dari perayaan Natal. Kabaktian Natal adalah kebaktian syukur agung kepada Allah karena telah mengirim AnakNya ke dunia. Perayaan Natal adalah ungkapan kegembiraan manusia karena mendapat kasih Allah. Di dalam kebaktian Natal tidak ada hura-hura. Di dalam perayaan Natal jemaat bebas mengungkapkan kegembiraannya, namun gereja mengendalikannya agar berlangsung sesuai kesusilaan.

Apabila anda tidak mau merayakan Natal karena tidak menemukan ayat Alkitab yang memerintahkan untuk merayakan Natal, seharusnya anda juga tidak merayakan Paskah, Kenaikan Isa Almasih dan Pentakosta. Anda juga tidak perlu makan, minum, sekolah dan melakukan banyak hal lainnya yang tidak ada ayat perintahnya dalam Alkitab.

Apabila anda tidak mau merayakan Natal karena yakin bahwa tanggal 25 Desember pernah digunakan dan masih digunakan untuk merayakan hari ulang tahun dewa matahari, kenapa tidak memilih hari lain untuk merayakannya? Atau kenapa tidak memikirkannya sebagai kemenangan Kekristenan atas kefasikan? Atau memikirkannya sebagai tantangan kepada kaum yang merayakan ulang tahun dewa matahari pada 25 Desember?

Apabila anda tidak mau merayakan Natal karena yakin bahwa merayakan Natal tidak ada gunanya bagi anda, maka anda tidak perlu merayakannya, namun biarkanlah orang lain yang ingin merayakannya dan hormatilah mereka yang merayakannya.

Saya merayakan Natal, namun menolak Santa Claus dan kerabatnya masuk gereja serta pesta Natal yang tidak sesuai kesusilaan.

SELAMAT NATAL!

ketika Allah larut dalam amarah
melihat kebobrokan manusia
dia mengirim Yesus Kristus
sebagai hadiah

Dikutip dari: sabda.org



0 komentar: